bvweide registration_Bookmaker Collection_Betting Handicap

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Aplikasi william hill

IndonIndonesian SportsesiIndonesian Sportsan SporIndonesian Sportstssejak kecil, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua telah ditanamkan di kepala kita. Ternyata, ibu pertiwi sejak awal sekali sudah mendambakan negara yang kaya budaya dan tetap satu dalam perbedannya. Sayangnya, praktek memang tak semudah berkomat-kamit teori. Apa yang selama ini kita rasakan adalah keberagaman ini justru dipaksa untuk diseragamkan. Padahal, seperti yang Dea katakan, perbedaan sangat dibutuhkan untuk menghapus persaingan yang tidak sehat.

Secara ringkas saja yang saya highlight, Dea mencantumkan data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2019, bahwa dalam rentang tahun 2017 ke tahun 2018 terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 14%. Catahu 2019 juga menunjukkan bahwa suami sebagai pelaku tindak kekerasan masih dan tetap berada di peringkat teratas. Bentuk-bentuk kekerasan di ranah privat itu berupa kekerasan fisik, kekerasan reproduksi, kekerasan psikis dan kekerasan ekonomi. Kata-kata mutiara berupa, “makanya, perempuan di rumah aja, lebih aman”, akhirnya beralih fungsi menjadi dongeng bagi perempuan. Faktanya, rumah yang di label sebagai tempat aman justru menjadi tempat potensial terjadinya kasus kekerasan.

Merupakan kompilasi esai karya Dea Safira, seorang perempuan berprofesi sebagai dokter gigi namun juga aktif menyuarakan feminisme berbasis media digital seperti voxpop.id. Ia juga berlakon sebagai perempuan di balik akun instagram feminisme dengan ribuan followers. Melalui bukunya yang berjudul “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” ini, Dea berupaya menyuarakan dan menyadarkan tentang kesetaraan dalam keberagaman.

Meminta solusi tanpa membahas permasalahannya adalah ibarat meminta obat untuk menyembuhkan sakit, tanpa mengetahui penyebab sakitnya. Maka, ketika ingin melawan patriarki, ya harus mengangkat wacara dari sisi perempuan, bukan malah membuatnya kembali soal lelaki.”

Terdapat tiga bab bagian, dengan 38 judul esai di dalam buku ini. Dea menuliskan banyak hal diantaranya seperti hubungan filosofi, ideologi, dan kenegaraan dengan feminisme, dorongan bagi perempuan untuk berkelana alih-alih ‘di rumah saja’, perempuan dan menulis, perspektif terhadap golongan emak-emak, kritik untuk caleg, pembahasan menstruasi—yang masih dianggap tabu pembahasannya, perihal cinta dan pasangan di masa depan, dan masih banyak lagi. Terkesan hanya membahas suara-suara perempuan? Oh, tentu saja tidak! Dea bukan pemuja feminis yang otomatis membeci maskulinitas dan patriarkis. Justru ia juga menyinggung mengenai kaum laki-laki yang sebenarnya kerap menjadi korban kekerasan reproduksi namun lebih memilih bungkam karena sangsi dianggap lemah dan tidak jantan. Hingga esensi feminis dalam memperjuangkan pemikiran cuti ayah dan ruang aman untuk laki-laki agar dapat bersuara pun Dea tuliskan.

Buku ini adalah rekomendasi bacaan yang wajib dibaca setiap perempuan dan laki-laki di muka bumi. Bunga rampai dengan pembawaan asik dan santai khas kaum muda ini cukup membuka pemikiran saya, yang selama ini sepertinya masih terkategori acuh atas hal-hal terkait perempuan. Perjuangan feminisme terlihat sukar ditembus jika mengharapkan terciptanya kebijakan dan regulasi. Mungkin, melalui giat literasi seperti ini yang lambat laun dapat melunturkan budaya patriarki. Karena, meskipun kelak ada regulasi yang represif, nyatanya kesadaran dari pemikiran masyarakat adalah komponen yang teruji lebih efektif.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

“Tentu, tidak semua lelaki melakukan kekerasan dan pelecehan. Namun, semua perempuan pernah mengalami kekerasan dan pelecehan. Ketika perempuan berupaya menjelaskan tentang perilaku lelaki, itu bukan berarti menyalahkan, melainkan mencari tahu penyebabnya.

Berangkat dari contoh ringan sehari-hari, Dea menyentuh koridor hidup yang mungkin selama ini kita abai padahal banyak sekali hak-hak hidup kita yang telah diusik. Dalam sistem patriarkis, sudah jelas ciptaan Tuhan yang berjenis kelamin perempuan adalah sosok sekunder dalam tatanan kehidupan. Negara maskulinitas pun memandang laki-laki adalah sosok yang superior.