Formal Baccarat_Texas Hold'em game_Baccarat odds

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Aplikasi william hill

SeCCanadian Online Canadian Online Baccaratbaccaratanadian Online Baccaratcara teori, nostalgia adalaCanadian Online Baccarath sebuah Canadian Online Baccaratperasaan rindu atau cinta pada masa lalu. Melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang familiar di masa lalu ini memberikan sensasi “pulang ke rumah”. Memang rasa itu hanya ilusi saja, tapi tidak bisa disangkal cukup menyenangkan dan menawarkan rasa nyaman.

Kita membeli kenangan, membeli sepotong ingatan tentang masa lalu, yang menawarkan sedikit kenyamanan walau semu.

Tampaknya ada gerakan untuk membawa kembali tren 90-an ke era milenium baru. Pasalnya, banyak anak-anak 90-an yang kini sudah beranjak dewasa masih terjebak dalam nostalgia kehidupan di era itu. Tapi apa iya generasi 90-an memang lebih kecanduan nostalgia dibanding generasi-generasi lainnya, alias paling tidak bisa move on? Hipwee News & Feature punya ulasannya nih.

Nostalgia semakin indah saat berlaku massal, sebab dari sana obrolan untuk menyamakan rasa dan berbagi kenangan kemudian bermunculan.

Kebiasaan mengenang masa kaum milenial ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh industri dan bisnis. Menjual kenangan akan masa lalu, banyak produk-produk jadul yang bermunculan. Mulai dari Nokia 3310, Kartu Pokemon, Tamagotchi, hingga Honda Astrea bermunculan di pasaran. Barang-barang tersebut jelas tidak menjual fungsi. Karena dilihat dari segi manapun pastinya kalah dibandingkan dengan produk masa kini yang super canggih dan menawarkan efisiensi.

Apakah momen 90-an adalah momen paling indah dibanding momen-momen lain? Tergantung kepada siapa pertanyaan itu diajukan. Karena nostalgia adalah sebuah emosi yang bisa dialami oleh semua orang dari semua generasi. Namun harus diakui bahwa generasi 90-an adalah generasi yang paling rajin mengingat-ingat masa lalu. Merindukan masa lalu menjadi semacam tradisi yang punya “official account” dan bahkan dibukukan, dengan tagar kebanggan #Nostalgia90an.

Kemajuan internet dan maraknya media sosial memang menjadi kekhasan masa kini. Fenomena masa kini ini tentu tidak bisa dilepaskan dengan kebiasaan kita untuk nostalgia. Generasi Z atau anak masa kini boleh lebih jago bermain medsos, tapi generasi 90an punya topik otentik yang bisa dikunjungi: nostalgia 90an. Dengan sebuah hashtag #throwback atau #90an, kita sudah bisa membuat jutaan pengguna media sosial termehek-mehek mengingat masa ketika mereka masih bocah.

Apa yang spesial dari generasi 90-an? Bertanya kepada generasi 90-an, tentu tak berhingga banyaknya. Namun secara historis, anak-anak 90-an memang produk transisi zaman. Terutama di Indonesia, kita merasakan perubahan zaman yang lumayan signifikan. Mulai dari era belum ada internet, hingga sekarang internet di mana-mana. Mulai dari telegram dan warung telkom atau wartel, hingga era video call di ponsel pintar. Kita juga sedikit merasakan krisis politik dan ekonomi 98, meski mungkin belum benar-benar paham apa yang terjadi. Kita merasakan transisi abad 21 di milenium 2000 yang menghebohkan. Mungkin karena inilah, kita jadi senang membanding-bandingkan dulu dan sekarang.

Nostalgia memang menyenangkan. Saat ini dunia dikuasi oleh kaum milenial. Dengan perubahan zaman yang serba kilat, tekanan entah itu berupa ekonomi, sosial, dan budaya juga semakin besar. Tubuh yang lelah setelah seharian bekerja dan sibuk beramah-tamah, tentu butuh sebuah jeda untuk menghibur diri sendiri. Nostalgia masa lalu adalah sebuah trik yang disediakan tubuh kita, sebagai sebuah hiburan murah meriah tapi jitu. Bacalah petualangan seru Oki dan Nirmala di Negeri Dongeng, dan kita barangkali sejenak kita bisa lupa bahwa dunia nyata kadang kejamnya luar biasa.

Dulu semasa internet masih terbatas dan sangat mahal, generasi 90-an harus nabung uang jajan untuk bisa ‘nongkrong’ di warnet. Meski begitu kita tetap senang, karena di hari Minggu kita bisa maraton nonton acara-acara TV yang kece dari pagi sampai siang. Sekarang kita bisa main game sendirian di manapun kapanpun dengan ponsel pintar, tapi dulu kita senang karena bisa main kelereng, congklak, dan berbagai permainan “cupu” dengan teman-teman. Sekarang kita pusing melihat perdebatan di sosial media, dulu kita sudah sangat puas saat Saras 008 berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya dan Panji Manusia Milenium berhasil menumpas kejahatan.

Kabar gembira untuk generasi 90-an yang terkenal susah melupakan move on. Mulai bulan April yang lalu, majalah Bobo yang dibaca hampir semua anak-anak 90-an, ada versi online-nya guys! Sebelumnya emang sudah beberapa kali sempat bikin versi online sih, tapi sekarang Bobo bisa kamu nikmati di website terbarunya Bobo.id. Kita bisa menengok kembali kisah Rongrong dan Bona si gajah kecil berbelalai panjang, Oki dan Nirmala di Negeri Dongeng, serta berbagai rubrik yang masih lekat di ingatan.

Di masa kecil, kita akrab dengan lagu-lagu legendaris seperti ‘Diobok-obok‘ by Joshua dan ‘Baju Baru‘ by Dhea Ananda. Menginjak masa remaja, kita mulai kenal lagu-lagu cinta ala Dewa 19 dan Sheila On 7 melalui tayangan musik yang benar-benar tayangan musik. Mendengar lagu pesanan kita diputar di radio pun rasanya sungguh mengharukan, sebab dulu ponsel kita masih monokrom dan monoponic yang tak bisa putar lagu apa-apa. Dengan segala kesederhanaan ini, generasi 90-an merasa jadi anak paling beruntung di dunia dan kadang merasa kasihan kepada anak kecil zaman sekarang yang terpaksa menyanyikan lagu-lagu orang dewasa.